Yang Menang Yang Bertahan

Posted 25 Mei 2008 by Tito Daniswara
Categories: Curhat

Judul yang sok puitis nih, padahal isinya ga ada puitis-puitisnya. Pengen nulis aja nih hal-hal yang mengganjal di hati ini (baru gini aja udah jadi ganjalan). Udah jadi perdebatan banget nih Futsal bertahan di kalangan footballer2 di IF. Ada yang jelas ga mau nerapin ini, ada yang pro sama Futsal macam ini…
well, jujur aja sih, sebenernya saya suka banget ama yang namanya Futsal bertahan… why? karena saya adalah seorang pemain bertahan… ahaha…

hmm, beberapa waktu yang lalu, manusia-manusia IF sempet sparing lawan teknik lingkungan (TL), yang menurut gw notabene jarang main-lah dibandingin anak2 IF yang kelopak matanya tipis2 gara2 digerus pas tubes jadi mainnya tiap dini hari… yah, intinya kita nyoba main dengan taktik 1-2-1 saat nyerang dan 2-2 saat bertahan… konsep yang bagus menurut gw… apalagi konsep 2-2 saat bertahan ga ada yang lewat garis tengah… tapi kenapa ujung2nya malah IF kalah? well, yang jadi titik lemah di sini adalah kedisiplinan. Saat nyerang 1-2-1, tapi pas bertahan malah 1-3 (1 di belakang dan 3 pressing, bukan 3 bertahan 1 pressing)… jelaslah saya sebagai orang yang menggalang pertahanan dirodi buat nutupin serangan anak2 TL.. lari ke kanan, dioper temen yang kiri, ngejar lagi, balik lagi, gitu2 aja terus ampe2 tiba2 udah masuk gawang aja… yang 3 ini malah pressing ke depan yang akhir2nya malah mudah dikelabui dengan operan2 biasa… beuh,, cape luar biasa,, sempet teriak2 juga sih nyuruh mundur dengan emosinya, tapi kok kalo di depan kayanya kupingnya ketutup semua ya (ato pada cape semua?)…

Sebelumnya juga lawan TI (ini jago banget operan2nya), di pertandingan pertama yang saya mainin kita make konsep yang salah, lagi2 terlalu banyak orang pressing, padahal saya udah teriak2 setengah mati “Belakang garis! Belakang garis!”, garis tengah maksudnya, bukan garis gawang. hasilnya di pertandingan pertama, dibuli-buli (baca: dimain-mainin) sama operan2 cantik mereka dan kalah telak… sebal… Terus akhirnya pas waktu main keduanya, dari awal saya bilangin kalo mundur aja bertahan di belakang nyari kesalahan mereka… hasilnya? well, 3-3 kalo ga salah inget, dengan gol terakhir mereka tercipta di menit terakhir… di situ udah mulai disiplin main bertahannya, ga pake pressing pemain (yah, dikit aja sih), cuma motong operan-operan mereka… dan hasilnya melalui serangan2 balik super cepet (a.k.a flick :p), kita bisa nembus pertahanan mereka kok.. (mungkin bisa menang kalo saya nendang ga kena tiang 2 kali, huhu)

Dari sini saya sih bisa ngambil kesimpulan kalo bertahan itu bukan negatif, dengan bertahan kita meraih kemenangan, yah minimal seri laah… Itulah yang namanya sepakbola,, it’s not static,, menang ga hanya dengan nyerang…
ada satu pernyataan yang menurut saya keren banget… dari komik Shoot sih (mm, dari bapaknya kazuhiro hiramatsu kalo ga salah).. “daripada menutup-nutupi kelemahan, lebih baik pertajam kelebihan…”
nah, ini banget yang pengen saya lakukan di tim saya… saya ga jago dalam hal teknik bermain, tapi saya cukup disiplin… kenapa ga gitu aja? kalo dari contoh yang lawan TI itu, TI jago banget passingnya,, kita pasti kalah kalo ikutan gaya dia main passing, jadi kenapa ga kita bikin gaya sendiri (baca: bertahan), yang sesuai dengan paradigma kedisiplinan IF (nyambung gitu? ya nyambung laah).. well, that’s make football fun for me! Analisa taktik musuh, dan ngalahinnya dengan gaya yang kita miliki…

Ada yang merhatiin kenapa Glasgow Rangers bisa masuk final UEFA Cup 2008? taktik 4-5-1 yang super bertahan dan memenangkan pertandingan dengan adu penalti…
Ada yang merhatiin kenapa MU juara EPL 2 musim berturut-turut? Kebobolan paling sedikit di liga
Ada yang tau kenapa itali juara PD 2006? Cattenacio!

“Offense win the games but Defense win the Tournament” -Komentator basket tvOne yang gw lupa namanya, dia juga quote ke seorang pelatih basket NBA sih…

Peran Divisi Keprofesian sebagai Divisi Pembelajaran dalam HMIF

Posted 20 Maret 2008 by Tito Daniswara
Categories: Uncategorized

HMIF sebagai organisasi keprofesian mahasiswa Informatika ITB mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan dunia keinformatikaan. Adanya divisi keprofesian di HMIF merupakan suatu langkah konkrit dalam mengembangkan dunia keinformatikaan. HMIF yang sekarang dicanangkan sebagai organisasi pembelajar memerlukan divisi keprofesian sebagai alat pembelajaran bagi anggotanya. Sesuai namanya, pembelajaran di dalam divisi keprofesian adalah pembelajaran tentang keprofesian di bidang informatika, baik itu secara teknis maupun hal-hal lain di luar bidang keinformatikaan. Pembelajaran pun tidak hanya untuk anggota divisi keprofesian saja, tetapi juga untuk semua anggota HMIF.

Pada awalnya, pembelajaran memang difokuskan pada divisi keprofesian itu sendiri. Ini untuk membangun sebuah sistem kecil yang terbiasa untuk bekerja dengan keprofesian dunia informatika. Pada contohnya, cara ini dapat dilakukan dengan diadakannya workshop kecil untuk anggota divisi. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan adanya proyek-proyek berukuran kecil sebagai pembelajaran awal. Selain dapat membantu mengembangkan keprofesian, hal ini juga dapat mengembangkan kerja sama di dalam divisi sehingga pada akhirnya di dalam divisi keprofesian ini terbentuk mindset keprofesian di dalamnya tanpa melupakan pentingnya kerja sama tim sebagai modal untuk HMIF.

Setelah terbentuk mindset keprofesian ini, divisi keprofesian juga seharusnya membagikan dan menularkan mindset ini ke HMIF sebagai organisasi keprofesian. Divisi keprofesian sendiri juga harus mengetahui fungsi-fungsi dari divisi-divisi lain di HMIF. Visi HMIF sebagai organisasi pembelajar tidak akan tercapai bila antar divisi tidak terjadi adanya pembagian (sharing) tentang pembelajaran itu sendiri. Sering kali suatu divisi tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh divisi lainnya, sehingga yang terjadi adalah egoisme antara divisi. Suasana pembelajaran tidak akan terjadi pada situasi seperti itu, sehingga yang terjadi hanyalah fanatisme per divisi yang tidak akan membuat visi HMIF tersebut tercapai. Setelah adanya sharing visi antara divisi ini, diharapkan akan terbentuk suasana HMIF sebagai organisasi pembelajar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan divisi keprofesian sebagai divisi pembelajaran, diperlukan mindset keprofesian, kemampuan anggota yang baik, kerja sama antar anggota dan kemauan untuk berbagi visi bersama divisi lain.

Referensi:http://ancok.staff.ugm.ac.id/h-8/alive-6-organisasi-pembelajar-organizational-learning.html, (20-3-2008, 11:23)

Halo Dunia!

Posted 23 Januari 2008 by Tito Daniswara
Categories: Uncategorized

Ah, akhirnya saya bisa ikutan nge-blog…

Melihat semua orang begitu rajin mengupdate blognya, saya pun jadi ikut tertarik untuk nge-blog. Padahal, kebiasaan buruk saya kalo ada yang kaya gini-gini ya males ngupdate tiap waktu, trus akhirnya jadi terbengkalai deh…

Ya, semoga aja bisa terus eksis di dunia per-blog-an ini, tetep terus ngupdate, ngisi yang berbobot, dll.  Doakan saja diriku ini… Okeh?

Halo Duniaaaaa!!!!